Korek

Hanya Korek

Benda yang sering dijumpai dari sekian banyak korek yang berjejer di etalase kelontongan, atau minimarket. Awalnya, ia hanya sebatas ada. Namun, perlahan-lahan, ketika ia larut dalam kebersamaan, di satu tongkrongan, di banyak perbincangan, ia menjadi satu dari banyak pilihan yang hadir. Namun fungsinya tetaplah sama: menghangatkan.

Hal yang dianggap sepele itu, lambat laun, menjadi sebuah bagian. Ia terlebur, menjadi kawan karib dan kita hanya bisa bertanya, bagaimana kiranya akhir hayatnya?

1. Apakah ia akan habis, sampai gas cairannya menguap dan kosong tak bersisa, mati di tangan pemiliknya? 

2. Ataukah ia akan lenyap, dicuri orang, berpindah tangan tanpa permisi?

3. Ataukah kita yang akan menggantinya dengan korek lain, ketika menemukan yang lebih baik?

Namun, yang paling perih, yang paling menyesakkan, adalah ketika ia tiada.

Entah rasa apa yang meliputi. Mungkin saja itu rasa kehilangan yang selalu menyertai, sebab ialah yang setia menemani ketika rokok disulut, ketika percakapan bermula.

Berbeda dengan rokok. Jika hilang satu batang, tak ada rasa yang mengiris, karena begitu banyak rokok yang tersimpan di dalam bungkusnya. Korek? Ia hanya satu sendirian di antara batang-batang rokok yang banyak itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OWALAH BUAH Mangga